Halaman

Jumat, 30 September 2011

Menjaga Hubungan Persahabatan

MENJAGA HUBUNGAN DALAM PERSAHABATAN ATAUPUN PERTEMANAN

Ada banyak kejadian atau permasalahan yang muncul dalam hubungan pertemanan atau persahabatan, bahkan hal tersebut bisa berujung pada hubungan yang tidak hamonis lagi. Sekalipun diantara mereka telah terjalin hubungan yang sangat dekat begitu lama. Mungkin dalam benak sebagian orang hal tersebut adalah hal yang wajar. Tetapi tanpa kita sadari sebenarnya hal tersebut disebabkan karena manusia pada dasarnya memiliki rasa egoisme yang tinggi. Dalam beberapa kasus, retaknya hubungan persahabatan atau pertemanan di picu oleh rasa egois. Perasaan ini tidak memandang status sosial, dia akan merasuki setiap hubungan yang dijalin oleh setiap manusia baik hubungan secara individu maupun kelompok. Untuk menjaga hubungan tersebut tetap harmonis, berikut ini beberapa tips yang mudah-mudahan dapat dipraktekan dalam hubungan sehari-hari..
 1. Milikilah perasaan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain.
 2. Ketahuilah bahwa setiap manusia di ciptakan oleh Sang Khalik dengan sangat unik, antara manusia yang
     satu dengan manusia ciptaan yang lain sangat berbeda.
 3. Pahamilah bahwa setiap manusia memiliki karakter yang berbeda
 4. Milikilah pemikiran yang positif.
Setelah memahami hal tersebut lanjutkan dengan langkah-langkah berikut:
1. Selama menjalin hubungan antara yang satu dengan yang lain pelajarilah karakter atau sifat dari teman
    anda, agar Anda tidak mudah sakit hati ataupun kecewa.
2. Perhatikan kebiasaan dari teman Anda, karena ada sebagian orang yang memiliki “kebiasaan” yang
   berbeda dari “kebiasaan” orang pada umumnya.
3. Jangan pernah memaksakan kehendak, karena saya yakin apabila teman Anda memaksakan
    kehendaknya kepada Anda, Anda juga pasti tidak akan setuju.
4. Lihatlah situasi dan kondisi yang tepat untuk melakukan sesuatu yang bisa menyangkut hubungan Anda.
5. Jadilah seorang teman dalam suka maupun duka, dan dalam menjalin hubungan jangan didasarkan atas
    untung atau rugi. 
6. Ketika teman Anda menceritakan permasalahan yang dia alami, jadilah teman yang setia
    mendengarkannya dan berikan satu pemikiran yang bisa membuat permasalahanya memiliki solusi yang
    tepat.
7. Apabila Anda ingin diperhatikan, perhatikan juga teman Anda.
8. Milikilah respon positif jika terjadi suatu permasalahan diantara Anda dan teman Anda. Karena respon
    Anda lah yang menentukan hubungan tersebut tetap berlanjut ataupun tidak.
9. Mengucap syukurlah karena mempunyai teman yang berbeda dengan Anda sehingga Anda memiliki
    tambahan pengetahuan tentang karakter masing-masing orang.
10. Jalanilah hidup ini dengan sukacita, sekalipun beban hidup menghimpit.
11. Anda pasti akan menjadi seorang teman yang di kagumi.
                                             Selamat menjalani…!!!

Senin, 26 September 2011

SENI ANGKLUNG

ANGKLUNG  adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Sabtu, 17 September 2011

ILMU IKHLAS

<><>
.IKHLAS kata yang sering diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Dalam beberapa literatur disebutkan, orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi ataupun imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Tujuannya hanya satu yakni agar apa yang ia lakukannya diterima Allah SWT.
Ibadah yang tidak disertai dengan ikhlas, maka ibadah tersebut akan sia-sia. Bayangkan, jika selama ini kita salat, puasa, zakat, haji serta melakukan amalan lainnya hanya untuk ‘dilihat’ orang, atau dianggap orang kita adalah orang alim, maka habislah amalan kita itu atau dengan bahasa yang sederhana sia-sialah amalan kita tersebut.

Rasulullah saw pernah berkisah, "Manusia yang mula-mula ditanya di hari Kiamat adalah tiga orang; pertama adalah orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan. Pada waktu itu Allah bertanya, "Apakah yang sudah kamu perbuat dengan ilmu yang engkau ketahui itu?"

Orang yang berilmu tersebut menjawab,"Ya Rabbi, dengan ilmu hamba itu, hamba bangun di tengah malam (untuk salat malam) lalu hamba berjaga di tepi siang (untuk mengajarkan ilmu kepada orang yang memerlukannya)."

Allah berfirman, "Engkau dusta!"

Malaikatpun berkata, "Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau disebut sebagai orang alim". Memang yang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.

Orang kedua adalah seorang laki-laki yang Allah beri harta kekayaan, maka Allah bertanya, "Engkau telah kami beri amanah harta, apakah yang sudah engkau perbuat dengan harta itu?"

Dia menjawab, "Ya Rabbi, harta benda itu semuanya telah hamba sedekahkan pada tengah malam dan siang hari."

Allah berfirman, "Engkau dusta!"

Malaikat pun berkata, "Engkau dusta! engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau dikatakan sebagai seorang dermawan". Memang yang demikianlah yang dikatakan orang terhadap dirinya.

Orang ketiga adalah laki-laki yang terbunuh dalam perang mempertahankan agama Allah, maka Allah bertanya, "Apakah yang telah engkau kerjakan?"

Ia menjawab, "Ya Rabbi, Engkau suruh hamba berjihad, maka pergilah hamba ke medan perang, lalu hamba mati terbunuh".

Allah pun berkata, "Engkau dusta!"

Malaikat pun berkata, "Engkau dusta! Engkau terbunuh karena memang engkau tidak siap untuk mati dan kalau pun engkau terbunuh engkau berharap mendapat gelar pahlawan."

Sebuah pelajaran yang selama ini memang mungkin kita berada pada gelombang ketidak ikhlasan ketika kita melakukan sesuatu yang baik. Banyak di antara kita yang mengharapkan ‘sesuatu’ dari apa yang kita lakukan. Akibatnya kita tidak mendapatkan apa-apa.

Maka benarlah hadist Rasulullah yang mengatakan, "Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan keikhlasan maka dosa-dosa (kecilnya) yang lalu akan diampuni Allah."

Sangat tidak nyaman jika seandainya dalam melakukan sesuatu ada nilai-nilai yang membuat unsur pamrih di dalamnya. Untuk itu, banyak orang yang sering mengucapkan kata ikhlas, namun aplikasinya yang tidak mudah dilakukan.

Bukan hendak melihat hati seseorang, tetapi biasanya, ada para politisi, pejabat dan lain-lain yang ketika menolong seseorang apakah itu lewat pemberian sembako, sumbangan dan lain-lain ada muncul rasa untuk dipuji. Kalau inilah yang ada di hati, maka di sinilah kita lebih mengedepankan unsur riya daripada unsur ikhlas.

Sebenarnya, ilmu ikhlas ada dalam buku, namun pada praktiknya ia sangat sulit untuk dilaksanakan. Kenapa? Karena ini berhubungan dengan kebersihan dan kesucian hati. Bila hati kita masih ada rasa ingin dipuja dan dipuji, maka lunturlah nilai ikhlas itu.

Puasa mengajarkan kita untuk ikhlas. Ikhlas dalam berbagai hal. Bukan dalam konteks ibadah semata, tetapi lebih daripada itu ikhlas terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah kita.

Keikhlasan itu tersimbolisasi dengan perasaan menyerahkan segalanya kepada Allah. Karena itulah ibadah puasa ini sangat berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Ia sangat menuntut keikhlasan seseorang untuk berlapar-lapar walaupun ada di depan matanya makanan dan minuman yang halal.

Lalu bagaimana kita merasakan bahwa hati kita ini sudah ikhlas? Maka kembali pada statement awal bahwa ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi ataupun imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Tujuannya hanya satu yakni agar apa yang ia lakukannya diterima Allah SWT.

Mudah-mudahan kewajiban puasa yang kita lakukan tahun ini memberi makna keikhlasan kepada kita, untuk selalu berbagi, peduli dalam kebersamaan.



Jumat, 09 September 2011

PUISI SEORANG AKHWAT

"MAMPUKAH AKU MENJADI WANITA SHOLEHA"

The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries,or the way she combs her hair.
The beauty of a woman must be seen in her eyes,because that is the doorway to her heart, the place where love resides.
The beauty of a woman is not in a facial mole,
But true beauty in a woman is reflected in her soul.
It is the caring that she lovingly gives, the passion that she shows and the beauty of a woman.
With passing years-only grows!

 
Mampukah aku menjadi seperti Siti Khadijah?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah
Hartanya diperjuangkan ke jalan fisabilillah
Penawar hati kekasih Allah
Susah dan senang rela bersama...

 
Dapatkah ku didik jiwa seperti Siti Aishah?
Isteri Rasulullah yang bijak
Pendorong kesusahan dan penderitaan
Tiada sukar untuk dilaksanakan...

Mengalir air mataku
Melihat pegorbanan puteri solehah Siti Fatimah
Akur dalam setiap perintah
Taat dengan ayahnya, yang sentiasa berjuang
Tiada memiliki harta dunia
Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga...

 
Ketika aku marah
Inginku intip serpihan sabar
Dari catatan hidup Siti Sarah....

Tabah jiwaku
Setabah umi Nabi Ismail
Mengendong bayinya yang masih merah
Mencari air penghilang dahaga
Diterik padang pasir merak
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah
Pengharapannya hanya pada Allah
Itulah wanita Siti Hajar....

Mampukah aku menjadi wanita solehah?
Mati dalam keunggulan iman
Bersinar indah, harum tersebar
Bagai wanginya pusara Masyitah....


NB: semoga kita semua (para akhwat) dapat terus berusaha tuk menjadi wanita sholeha, sebagaimana yang disebutkan bahwa "sebaik-baik perhiasan dunia adalah Wanita yang Sholeha".